Cireboner - Ciremai Weekend Adventures - Ojek Wisata Cirebon - Ojek Wisata Kuningan - Souvenir Khas Cirebon - Souvenir Asli Cirebon - Ngebolang ke Cirebon
Have question?
News
  • sewa tenda cirebon

    Untuk mengakomodasi kebutuhan para outdoor bolanger yang pengen praktis dan ekonomis dalam penyediaan alat-alat camping, maka cireboner.com bekerjasama dengan Cirebon Power Rider, memberikan solusi dengan menyewakan alat kelengkapan camping download pricelist

  • Korban pertama Green Canyon Majalengka

    Adapun identitas dalam buku masuk pengunjung di pos kedua objek wisata Gua Lalay, ke-13 mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah itu antara lain, Amar 19, Ciputat, Tanggerang Se latan; Faujan, 22, (Pamulang); Ahmed, 20, (Pamulang); Kelaudia, 21, (Ciputat); Regina, 19, (Tanjung Priok); Fitri, 19, (Ciputat); Adjim, 21, (Pondok Cabe); Syla, 19, (Curug, Bogor); Ewa 19, (Bintaro); Ratri, 18, (Gunung Putri, Bogor); Ulfa, 18, (Ciputat); Vidya, 18, (Pamulang), dan Dodo, 19, Ligung Lor, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka.

  • Stasiun Kejaksan Cirebon

Visits:
Today: 46All time: 115427

Amazing Camping Curug Bajing

Bolanger Notes » Amazing Camping Curug Bajing

  • Curug Bajing Petungkriyono
    Curug Bajing Petungkriyono
  • Curug Bajing Kemah
    Curug Bajing Kemah
  • Curug Bajing Petungkriyono
    Curug Bajing Petungkriyono
  • Curug Bajing Petungkriyono
    Curug Bajing Petungkriyono
  • Curug Bajing Pekalongan
    Curug Bajing Pekalongan
  • Curug Bajing Pekalongan
    Curug Bajing Pekalongan
  • Curug Bajing Petungkriyono
    Curug Bajing Petungkriyono
  • Curug Bajing Pekalongan
    Curug Bajing Pekalongan
  • Curug Bajing Pekalongan
    Curug Bajing Pekalongan
  • Curug Bajing Petungkriyono
    Curug Bajing Petungkriyono
  • Curug Bajing Pekalongan
    Curug Bajing Pekalongan
  • Curug Bajing Pekalongan
    Curug Bajing Pekalongan
  • Air terjun Bajing Pekalongan
    Air terjun Bajing Pekalongan
  • Curug Bajing Camping
    Curug Bajing Camping
  • Camping di curug bajing
    Camping di curug bajing
  • Curug Bajing Petungkriyono
    Curug Bajing Petungkriyono
  • Curug Bajing Pekalongan
    Curug Bajing Pekalongan
  • Curug Bajing Petungkriyono
    Curug Bajing Petungkriyono
  • Curug Bajing Pekalongan
    Curug Bajing Pekalongan
  • Curug Bajing Pekalongan
    Curug Bajing Pekalongan
  • Curug Bajing Petungkriyono
    Curug Bajing Petungkriyono
  • Curug Bajing Pekalongan
    Curug Bajing Pekalongan
  • Curug Bajing Pekalongan
    Curug Bajing Pekalongan
  • Curug Bajing Petungkriyono
    Curug Bajing Petungkriyono
  • Curug Bajing Petungkriyono
    Curug Bajing Petungkriyono
  • Curug Bajing Petungkriyono
    Curug Bajing Petungkriyono

Menyambung catatan sebelumnya, setelah dirasa cukup istirahat dan bersih-bersih badan serta beribadah, maka kami segera pamit dan dengan dikawal oleh EO kami menuju ke Curug Bajing untuk berkemah disana.

Jalur ke Curug Bajing

Hari sudah semakin gelap, dan kelokan serta tanjakan masih aja eksis disepanjang 45 menit perjalanan menuju lokasi parker curug Bajing, yup setibanya kami disana hari sudah gelap sehingga pemandangan indah sekitarnya pun harus tertunda untuk kami nikmati hingga besok hari.

Dentuman music dangdut menyambut kehadiran kami di parkiran curug Bajing petungkriyono tersebut, meski gelap dan pencahayaan hanya remang-remang di warung satu satunya yang ada disitu, loket karcis juga terlihat hitam legam, sepertinya time management dari tim EO masih kurang terencana dengan baik sehingga mengurangi suasana yang seharunya meriah menjadi sedikit sendu.

Pedasnya wedang bandrek yang hangat sangat menyengat, sangat kontras dengan manisnya ketela rebus yang berlumur nira kelapa yang sudah mengental coklat, kombinasi kontras yang justru membuat sensasi rasa yang unik dan maknyus, terlebih ketika kerupuk pelangi menjadi penengah diantara perseteruan manisnya ketela rebus dan pedasnya jahe di wedang bandrek. Hmmmm yummy

Setelah merapikan parkir dan membongkar muatan, kemudian kami berangkat menuju camping ground curug bajing yang berada sekitar 15 menit jalan kaki, dengan bermodalkan headlamp masing-masing kami berjalan menuju camping ground tanpa bias menikmati pemandangan sekitarnya.

Bangun Tenda gelap-gelapan

Lokasi camping tidak jauh dari curug bajing petungkriyono, dimana dari lokasi tersebut sudah terlihat arus air terjunny ameski samar karena gelap malam, namun dari suaranya terdengar jelas betapa deras dan tingginya curug Bajing petungkriyono tersebut, rasa penasaran kami pun harus kami tahan hingga esok hari ketika mentari mulai menerangi.

Di area camping pun, masih ada kendala pencahayaan, jika saja ada satu atau dua lampu listrik permanen, tentu akan sangat membantu dalam mempersiapkan pendirian tenda, jadinya ya hanya bermodal headlamp kami mulai bangun tenda masing-masing.

Sebenarnya makan malam sudah siap sejak di parkiran, tetapi dengan pertimbangan bahwa masih harus berjalan 15 menit angkut barang, trus effort untuk mendirikan tenda saat kegelapan, maka makan malam kami sepakati setelah tenda benar-benar berdiri dan siap dihuni.

Semua tenda beres, pembagian penghuni tenda pun sudah terbagi dengan proporsional, sehingga untuk makan malam bersama, kami sudah sangat-sangat siap :P

Dengan jarak tak lebih dari 10 meter ke gazebo tempat untuk lesehan makan malam, maka kami segera berkumpul dan berebut menikmati makan malam dengan menu bersahaja ala warga gunung, sangat nikmat, terlebih juga karena kondisi yang capek, dan lapar yang tertahan.

Makan Malam

Sebernarnya agenda setelah makan malam adalah ramah tamah, mereview perjalanan berangkat dari sisi keteraturan, keamanan, dan kebersamaan, memperkenalkan anggota baru, memberikan badge dan nomor ID bagi member yang sudah lulus syarat dan ketentuan, juga untuk membahas langkah legalisasi komunitas kepihak yang berwenang, itu mengapa sebelum makan selesai api unggun sudah mulai nyala, agar menarik dan membuat mereka tetap bertahan.

Tetapi mungkin karena terlalu capek sejak jungle trekking dan dingin kehujanan, ditambah lagi dengan tidak tersedianya air minum setelah makan, maka sangat fatal kesalahan EO dalam mengatur makan malam itu, karena dimanapun yang namanya makan harus diakhiri dengan minum, dan saat itu semua merasa haus sedang minuman tak kunjung datang, akhirnya mereka masing-masing menuju ke tenda untuk minum dari perbekalan masing-masing, dan enggan balik kembali ke gazebo.

Dengan menyisakan aku dan beberpa orang dari YVML Pekalongan dan juga CPR kami duduk santai dan ngobrol banyak hal, mulai dari topic komunitas motor, mitos dan sejarah wahana wisata disekitar petungkriyono, hingga kepeluang-peluang bisnis. Hingga malam begitu larut dan api unggun semakin membara disaat larut itulah the panas kemudian hadir dianter oleh tim EO.

Hunting Kartu Gaple

Jika di event2 tour sebelumnya kartu gaple dan remi menjadi perlengkapan wajib, maka malam itu kami sangat kehilangan dua item tersebut, kami lupa tidak menyertakan kartu tersebut dalam bawaan kami, sehingga makin garinglah obrolan tanpa game, sehingga kantuk pun semakin cepat dating dan akhirnya tumbang.

Setelah aku dirikan sisa tenda untuk teman2 YVML Pekalongan di gazebo tersebut, maka aku menuju tendaku sendiri untuk bobok ganteng.

Dan tiba-tiba banjir datang

Tidur begitu lelap, namun hujan yang tiba-tiba turun dini hari itu tetap membuat kami terbangun dan kemudian ribut, karena beberapa tenda ternyata tidak waterproof alias tembus kebanjiran, mereka segera kemasi barang dan mengungsi ke gazebo, untuk berteduh disana.

Aku kemudian dengan dibantu oleh bro Abie berinisiatip untuk memboyong tenda-tenda yang kebanjiran tersebut ke Gazebo sekalian, karena pagi juga masih jauh dan beberapa diantaranya adalah cewek dan keluarga, so dengan belepotan lumpur aku boyong tenda yang kebanjiran tersebut ke gazebo, untuk kemudian aku keringkan dan siap dihuni kembali.

Menemani api

Suasana kembali mereda dari kepanikan, karena masing-masing sudah mendapatkan tempat untuk melanjutkan tidur, dan lagi-lagi menyisakan aku dan beberapa orang saja yang bertahan untuk menemani nyala api unggun.

Tak berapa lama kemudian suasana kembali sepi, semua sudah kembali tidur tinggal aku sendiri yang entah mengapa tidak lagi pengen untuk tidur, berasa menemukan kedirian yang berbaur dengan deru suara air curug bajing.

Menit demi menit, jam demi jam aku nikmati hangatnya api unggun dan pedih asapnya ketika mengenai mata, dengan suara alam yang begitu indah, dan tiba-tiba suara gemuruh dahsyat terdengar dari arah curug, yup suara yang menggambarkan adanya sebongkah batu besar yang terbanting hancur dari ketinggian, aku kemudian berfikir jika memang batu-batu itu jatuh dari ketinggian air terjun berarti semuanya harus diperingatkan untuk tidak mandi dibawah air terjun, karena rawan longsor dan batu yang jatuh.

Pertamax gan

Langitpun mulai terlihat, begitu juga julang tinggi air terjun Bajingnya, aku beranjak meninggalkan hangat api unggun, untuk menjadi yang pertamax menikmati indah dan sejuknya curug bajing, yup aku yang pertamax, karena yang laen masih terlelap tidur dan entah sampai kapan mereka akan bangun.

Segera aku ke tenda untuk berganti pakaian, terlihat satu kantong kacang kulit, dan sebotol air mineral, aku samber aja untuk aku nikmati saat berada di air terjun nanti, terbayang betapa nikmati nyemil kacang dengan berada di gemuruh air terjun yang menghempas butiran lembut airnya.

Pagi masih dingin untuk mereka, tetapi sudah menjadi sedemikian sejuk untuk aku, dari camping ground menuju curug masih ada sekitar 200an meter dengan menuruni bukit dan menyeberangi jembatan bambu yang terlihat makin menghidupkan pemandangan, aku beranjak untuk mencoba mencapai titik paling dekat dengan air terjun.

Sensasi hempasan angin dan butir air

Ada sebongkah batu besar yang berada tepat dihadapan air terjun, hempasan butir air yang lembut disertai angin membuat siapapun yang berdada ditempat itu akan basah kuyub, begitupun dengan aku yang mulai menggigil kedinginan, sekalian aku lepas baju untuk kemudian berkompromi dengan dingin, yup berasa seru ketika akhirnya dingin itu perlahan bisa aku kompromikan.

Lumayan lama aku duduk menghadap curug Bajing seorang diri sambil menikmati kacang kulit yang luar biasa nikmatnya, begitu habis aku berbalik arah dan aku lihat banyak sudah teman-teman aku yang sudah bangun dan berabjak mendekati tempat aku bersemedi..

Jeprat-jepret kamera kemudian menjadi aktivitas yang mendominasi kami semua, kami berlomba untuk mendapatkan angel paling bagus dan kualitas gambar yang paling artistik, tak peduli kelas pocket, kamera hape, ataupun DSLR , karena originalitas tetap menjadi prioritas.

Dari sekian air terjun yang pernah aku datengi, curug bajing merupakan tempat yang eksotis untuk berkemah, karena lokasinya yang memungkinkan untuk angle dimana latar belakang dari tenda kami, adalah view luar biasa dengan sebuah air terjun diantaranya.

Menuju next level adventure

Setelah disara cukup mengabadikan setiap sudut keindahan curug Bajing, kami kemudian bongkar tenda dan mengaudit asset yang kami pinjam dari EO, dengan photo bersama, maka moment kebersamaan di indahnya curug bajing kami sudahi, kemudian kami sarapan bersama dan pamit dari curug Bajing untuk lanjut menuju Weloriver.

Yup menuju sebuah petualangan yang lebih seru lainnya, river tubing!


Mau tahu serunya river tubing di kali welo? Tunggu catatan selanjutnya ..wink

 

Cireboner - backpack ojeker

Facebook
PRchecker.info