Cireboner - Ciremai Weekend Adventures - Ojek Wisata Cirebon - Ojek Wisata Kuningan - Souvenir Khas Cirebon - Souvenir Asli Cirebon - Ngebolang ke Cirebon
Have question?
News
  • sewa tenda cirebon

    Untuk mengakomodasi kebutuhan para outdoor bolanger yang pengen praktis dan ekonomis dalam penyediaan alat-alat camping, maka cireboner.com bekerjasama dengan Cirebon Power Rider, memberikan solusi dengan menyewakan alat kelengkapan camping download pricelist

  • Korban pertama Green Canyon Majalengka

    Adapun identitas dalam buku masuk pengunjung di pos kedua objek wisata Gua Lalay, ke-13 mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah itu antara lain, Amar 19, Ciputat, Tanggerang Se latan; Faujan, 22, (Pamulang); Ahmed, 20, (Pamulang); Kelaudia, 21, (Ciputat); Regina, 19, (Tanjung Priok); Fitri, 19, (Ciputat); Adjim, 21, (Pondok Cabe); Syla, 19, (Curug, Bogor); Ewa 19, (Bintaro); Ratri, 18, (Gunung Putri, Bogor); Ulfa, 18, (Ciputat); Vidya, 18, (Pamulang), dan Dodo, 19, Ligung Lor, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka.

  • Stasiun Kejaksan Cirebon

Visits:
Today: 11All time: 183298

Belawa the undercover story

Wisata cirebon » Kura-kura Belawa » Belawa the undercover story

  • kura-kura belawa dan generasi peduli
    kura-kura belawa dan generasi peduli
  • 300 kematian dalam sebulan!
    300 kematian dalam sebulan!
  • Bangkai Kura-kura Belawa
    Bangkai Kura-kura Belawa
  • Kolam kering tak terawat
    Kolam kering tak terawat

Dari Cirebon

Jika kamu menuliskan di kolom direction gmap dari cirebon ke Belawa dimana kura-kura berada, maka gugel akan merekomendasikan jalur yang ternyata tidak bagus, oleh karenanya Cireboner merekomendasikan untuk melewati jalur Pantura kearah Sindang Laut sebuah pertigaan yang tak jauh dari lokasi PLTU Cirebon.

Dari pertigaan Sindang tersebut terus ikuti jalur utama dengan melewati perlintasan kereta api, lalu terowongan rel kereta api, dan mentok hingga pertigaan yang disana akan kita temukan petunjuk arah menuju Belawa, ambil jalur kanan dan mulai mengikuti jalur aspal yang lebih kecil.

Dari pertigaan tersebut tidak akan kamu temukan petunjuk arah menuntun ke lokasi Cikuya alias Taman kura-kura belawa, sebatas suasana perkampungan yang biasa, jadi insting sangat diandalkan, atau kalau menyerah bisa beralih ke GPS (Gunakan Penduduk Setempat) untuk bertanya :P

Setelah sampai di Cipeujeuh (hadeeh bacanya gimana sih?) maka satu-satunya petunjuk arah, akan kita temui ngajentul dewekan mungil dipinggir jalan. Dan dari situ jarak menuju gerbang lokasi masih sekitar 69 meter lagi, itupun masih ada satu pertigaan lagih.

Satu pekerjaan rumah buat Dinas terkait untuk menyediakan petunjuk arah yang lebih informative agar para traveler bisa sampai tanpa harus kebingungan nyasar.

Lokasi Belawa

Gerbang lokasi penangkaran kura-kura Belawa cukup sederhana, dan disaat tulisan ini dibuat, bahkan gerbang yang sekaligus loket tiket tersebut nyaris tidak berguna, atau tidak digunakan, coretan sejumlah cat semprot bertuliskan nama komunitas cukup untuk merusak nuansa wisatanya.

Tidak ada lahan datar dan khusus untuk parkir kendaraan, tapi ada space yang bisa menampung puluhan motor dan beberapa mobil saja.

Area lokasi penangkaran tidak bisa dibilang luas, karena bahkan padanya ada dua jalur umum yang satu menuju suatu kampong dengan aspal yang lumayan lebar, dan satunya menuju sebuah perkampungan dengan anak tangga dan jalur motor saja.

Cukup aneh dan merepotkan jika sebuah wahana penangkaran yang sekaligus tempat wisata ternyata dilalui oleh jalur umum, karena selain monitoring dan control jumlah pengunjung yang akan sulit, juga factor keamanan yang menjadi riskan.


Setidaknya ada dua kolam yang menjadi tempat hidup para kura-kura, satuya keruh melingkar sebagai kolam utama, dan satunya kotak dengan air yang lebih jernih, padanya masih terdapat 200an ekor kura-kura yang tentunya akan bertumpuk dan berdesakan, need more space untuk mereka.

Pohon-pohon raksasa menjadi peneduh dan penjaga kesejukan udara di lokasi tersebut, adanya sendang kecil, sumur kecil, mushola, dan kamar kecil menjadi feature pelengkap dari lokasi wisata Kura-kura Belawa tersebut.

The Mummy

Saat kita masuk, yang pertama kali bisa kita lihat, atau mungkin bisa kita sebut sambutan adalah dua mummy dari sesepuh kura-kura yang meninggal tahun 2009 lalu, cukup besar dan tentu sangat tragis… karena cerita dibalik meninggalnya mereka sangat ironis.

Yup pada saat itu sebuah bencana meghampiri para kura-kura, kematian yang beruntun menyebabkan lebih dari 300 ekor kura-kura punah! Hanya dalam waktu kurang dari 1 bulan!!! Benar-benar tragis…

Pasir Buatan untuk bertelur

Selain itu terdapat sebuah area berpasir yang memang disiapkan untuk kura-kura bertelur, tetapi karena suhu dan alasan keamanan, maka telur-telur tersebut dipindahkan ke sebuah ruang incubator untuk menjaga dan menjamin kestabilan suhu agar prosentasi menetasnya telur lebih besar.

Cerita uniknya lagi tentang pasir tersebut adalah, ternyata pasir itu bukan dari pengelolaan dinas terkait yang notabene sangat mengetahui habitat dan cara hidup hewan kura-kura, karena memang itu bidangnya dan yang mereka pelajari, tetapi hasil sumbangan dari sebuah perusahaan swasta yang mempunyai kepedulian tentang pelestarian kura-kura belawa.

Begitu juga dengan mushola, tempat wudhu, pagar dan lainnya nyaris bukan dari dinas terkait yang mempunyai budget dan anggaran untuk itu, tetapi disumbang dari pihak yang masih peduli.

Urusan Perut bro...!

200an ekor kura-kura yang masih hidup tentunya bergantung pada pengelolaan, tanpa dikasih makan mereka tentu tidak bisa cari makan, oleh karenanya fakta mengejutkan lainnya adalah, bahwa pembelian makan para kura-kura yang berupa ayam mentah tersebut bergantung dari berapa rupiah yang didapat dari hasil penjualan tiket, dimana harga tiket perorangan adalah 5 ribu dengan parkir motor 2 ribu dan parkir mobil 5 ribu.

Jika tanpa pengunjung, maka perlahan kura-kura tersebut akan kelaparan dan mati mengenaskan!
Satu kura-kura yang paling bongsor akan menghabiskan 1 kilo daging ayam untuk bertahan kenyang selama sehari atau dipaksakan 2 hari, jika dikalikan 200 maka estimasi kebutuhan pembiayaan makan saja untuk para kura cukup besar.

Belum pemeliharaan yang lain, pemasangan pagar dan kawat masih belum rampung, ruangan untuk telur terlalu sedikit, kolam penangkaran anakannya bahkan tidak ada, sehingga tidak heran jika kura-kura yang masih kecil sering menjadi mangsa bagi kura-kura yang lebih gede.

Kolam kecil buatan yang mungkin awalnya untuk hiasan taman, juga mangkrak kering tak terawat, harus dicari solusinya untuk biaya pemeliharaan habitat kura-kura belawa tersebut.

Tragedi

Kematian massal yang terjadi sebelumnya merupakan side effect dari kurang maksimalnya pemeliharaan dan kepedulian terhadap satwa langka tersebut, secara resmi dilaporkan bahwa penyebab dari kematian para kura adalah adanya virus, bakteri, dan semacamnya y ang mewabah di kolam utama tempat tersebut, tetapi ternyata ada fakta unik yang kontroversi dibalik kematian beruntun 300an kura-kura di kolam tersebut, yaitu adanya indikasi kesengajaan dengan cara DIRACUN!!!.

Analisa tersebut muncul setelah diketahui bahwa kesemua kura-kura mengalami hal yang sama yaitu pembusukan di organ hati, dan kemungkinan yang paling bisa menyebabkan hal itu adalah racun, bukan virus ataupun bakteri.

Fakta kedua adalah tidak semua kura-kura mati meski dikolam yang sama, sehingga jika itu adalah virus dan virus berkembang dikolam, tentu lambat laun kesemua kura yang ada dikolam tersebut akan mati, karena tindakan medis yang dilakukan oleh pihak terkait juga nyaris tidak ada.

Pengobatan terhadap kura-kura yang masih sekarat, dilakukan dengan cara uniq, dimana sebuah nasehat didapatkan dari hasil bisikan gaib dengan memberikan air kelapa muda kepada kura-kura yang meregang ajal. Dan secara aneh mereka hidup sehat kembali dan meneruskan hidup hingga mampu berkembang biak hingga saat ini.

Fakta lainnya adalah, adanya situasi yang tidak kondusif dimana pemicu awalnya adalah kewenangan dan pengelolaan yang hubungannya dengan pembagian hasil dari penjualan tiket dan parkir, ada indikasi ketidak puasan dari satu pihak dengan system pengelolaan lokasi wisata tersebut, sehingga tindakan sadis dengan meracuni kura-kura tersebut dilakukan.

Cerita lain dan diperkuat dengan coretan-coretan yang ada, menunjukkan adanya premanisme dari oknum setempat yang tidak bertanggung jawab dengan memaksa meminta jatah uang rokok masih berlangsung, jika hal itu tidak terpenuhi maka salah satu aksi mereka adalah menjadikan tempat tersebut sebagai tempat berpesta miras, dan melakukan aksi vandalism juga perusakan fasilitas.

Sungguh berat perjuangan sukarelawan yang menjaganya karena satu orang yang perduli berbanding dengan 10 orang yang hanya peduli pada uang hasil pengelolaan, setidaknya begitulah curahan hati salah seorang yang telah mengabdikan dirinya menjaga para kura-kura tersebut.

Kok Dinas Perikanan?

Dari obrolan yang seru itu, diketahui bahwa sebenarnya sedikitnya ada 2 orang ber SK yang diangkat sebagai pengelola dan bertanggung jawab terhadap pengelolaan habitat kura-kura belawa, tetapi pada kenyataannya bisa dibilang tidak pernah mereka berkunjung ke tempat itu,apalagi andil dalammengatur pengelolaan dan sebagainya, sungguh ironi jika faktanya mereka digaji

Departemen yang menjadi naungan dan harapan kelangsungan hidup kura-kura Belawa adalah dinas perikanan, yup dinas perikanan bukan dinas pariwisata atau lainnya yang secara langsung terlibat dengan potensi tempat tersebut, tetapi meski dinas pariwisata PUN juga tidak bisa diharapkan terlalu banyak, karena jika mereka concern dengan professionalitas mereka maka tentunya Taman Ade Irma Suryani tidak akan jadi seperti sekarang, Pelabuhan tidak sekotor sekarang, dan taman kura-kura Belawa tidak akan menyedihkan seperti saat ini…

Lalu siapa?!

Inkubasi Telur Kura-kura

Saat itu setidaknya ada 100an telur kura-kura yang di inkubasi di tempat khusus, dan cireboner mendapat kesempatan untuk melihatnya secara langsung.

Kita berharap bahwa dari kesemua telur yang sedang menunggu saatnya menetas tersebut semuanya bisa menetas dan semuanya tumbuh menjadi kura-kura sehat yang terjamin kelangsungan hidupnya, karena secara matematis hadirnya 100an kura-kura baru tentu akan mempengaruhi belanja dari pengelola untuk beli daging ayam, menyediakan kolam baru, dan hal linnya yang hubungannya dengan dana dan keuangan, juga tempat dan area.

Curahan Hati

Sebagai seorang yang peduli dengan kelangsungan hidup sikura-kura Belawa, sibolang (sebut saja begitu) sudah bertahan sekian lama untuk selalu berada di dekat para kura-kura, lokasi yang lumayan jauh dari rumahnya tidak menyurutkan niat untuk setia.

Disaat pemuda yang laen tersilaukan oleh iming2 penghasilan gede ditempat lain, sibolang ini lebih memilih berpenghasilan seikhlasnya dari kemurahan dan empati para pengunjung penangkaran yang merasa terhibur dan terbantu dengan adanya dia disana.

Statusnya hanyalah seorang freelance tetapi dialah satu dari dua orang sipil yang secara rutin berada di lokasi dan membantu para pengunjung untuk menikmati suasana, dengan tak lelah mengulang cerita, sabar menjawab setiap pertanyaan, dan ringan tangan nyebur ke kolam untuk sekedar mengangkat si kura-kura bongsor untuk diperlihatkan kepada pengunjung.

Keselamatan dipertaruhkan, karena selain berkuku tajam, kura-kura belawa juga bergigi kuat untuk sekedar meremukkan tulang jari dan merobek kulit, sudah banyak bekas luka terlihat dibagian tubuhnya dan itu belum berakhir, karena entah besok atau lusa hal yang lebih mengerikan bisa saja akan terjadi jika dia lengah.

Namun sederet kalimat curahan hati tidak menutupi ketelatenannya dalam menceritakan sejarah da nasal muasal kura-kura belawa, karena sebenarnya dia sangat berharap ada perhatian khusus dari pemerintah kabupaten Cirebon , baik kepada kura-kura Belawa, maupun kepada orang-orang yang berdedikasi menjaga pengelolaannya, seperti dirinya.

Karena jika kita ingin kura-kura belawa tetap hidup dihabitatnya hingga kelak, maka aksi yang dilakukan adalah menangkarnya, mengembang biak kannya, yang artinya sebanyak mungkin jumlah kura-kuranya bertambah dan tentunya membutuhkan tempat, biaya, dan orang-orang sebagai pelaksana yang lebih pula. Mampukah pemerintahan cirebon menjaga kelestariannya?


Selain fakta terkini tentang habitat hewan langka tersebut, ternyata Kura-kura belawa menyimpan rapi mitos dan legenda yang unik dan menarik untuk dicermati pesan moralnya.

 

Salam

Cireboner

 

Facebook
PRchecker.info