Cireboner - Ciremai Weekend Adventures - Ojek Wisata Cirebon - Ojek Wisata Kuningan - Souvenir Khas Cirebon - Souvenir Asli Cirebon - Ngebolang ke Cirebon
Have question?
News
  • sewa tenda cirebon

    Untuk mengakomodasi kebutuhan para outdoor bolanger yang pengen praktis dan ekonomis dalam penyediaan alat-alat camping, maka cireboner.com bekerjasama dengan Cirebon Power Rider, memberikan solusi dengan menyewakan alat kelengkapan camping download pricelist

  • Korban pertama Green Canyon Majalengka

    Adapun identitas dalam buku masuk pengunjung di pos kedua objek wisata Gua Lalay, ke-13 mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah itu antara lain, Amar 19, Ciputat, Tanggerang Se latan; Faujan, 22, (Pamulang); Ahmed, 20, (Pamulang); Kelaudia, 21, (Ciputat); Regina, 19, (Tanjung Priok); Fitri, 19, (Ciputat); Adjim, 21, (Pondok Cabe); Syla, 19, (Curug, Bogor); Ewa 19, (Bintaro); Ratri, 18, (Gunung Putri, Bogor); Ulfa, 18, (Ciputat); Vidya, 18, (Pamulang), dan Dodo, 19, Ligung Lor, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka.

  • Stasiun Kejaksan Cirebon

Visits:
Today: 11All time: 183298

Sejarah Kura-Kura Belawa

Wisata cirebon » Kura-kura Belawa » Sejarah Kura-Kura Belawa

  • Sumur Pamuruyan Belawa
    Sumur Pamuruyan Belawa
  • Pohon Keramat Belawa
    Pohon Keramat Belawa
  • Sumur Keramat Kamulyan
    Sumur Keramat Kamulyan

Kisah dari Kura-kura Belawa ini dimulai dari jaman dikala Islam baru masuk ke ranah jawa, dan tersebutlah disebuah desa sebuah keluarga yang dikaruniai seorang anak laki-laki tetapi dalam kondisi yang berbeda dengan anak lainnya.

Joko Saliwah adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya dan nama Joko Saliwah sendiri mempunyai arti seorang laki-laki yang berbeda (kelainan) dan yang membedakan dirinya dengan orang kebanyakan adalah wajahnya yang belang, tidak detail jelas tentang seperti apa belangnya, tetapi hal itu cukup membuat minder dan beban berat baik bagi keluarganya terlebih bagi si Joko Saliwah sendiri.

Sudah banyak cara diusahakan demi kesembuhan si Joko Saliwah, hingga akhirnya orang tua Joko Saliwah mendapatkan referensi untuk membawa si Joko Saliwah menemui seorang bijak yang dikenal dengan nama Syeh Datuk Putih, pada sebuah surau kecil di desa Belawa yang cukup jauh dari rumah tinggalnya.

Namun dengan motivasi dan sugesti yang kuat berangkatlah Joko Saliwah dan ayahnya menemui si bijak dengan naik turun gunung dan bukit, menembus belantara hutan dan berkompromi dengan cuaca, demi sebuah harapan untuk bisa sembuh dan hidup sebagaimana orang lain.

Begitu sampai di surau kecil itu, mereka disambut dengan ramah dan terbuka, sang ayah segera menceritakan tentang beban yang ditanggung oleh anaknya dengan belang diwajahnya, sang ayah memohon untuk bisa disembuhkan, namun dengan bijak sang kiai berucap bahwa segala sesuatu itu diciptakan dengan sebuah alasan, namun kelahiran seorang bayi bukan merupakan kutukan atau tanggungan beban dari dosa dan kesalahan orang tuanya, tuhan maha kasih dan maha mengetahui tentang segala apa yang diciptakan.

Banyak wejangan dan nasehat yang memotivasi si Joko Saliwah selama menjalani hidup di surau tersebut, sehingga secara sadar dan ikhlas si Joko Saliwah menyatakan diri bersahadat, oleh karenanya setelah sah memeluk Islam, si Joko Saliwah disuruh untuk belajar dan mendalami ilmu agama serta baca kitab suci alqur’an secara rutin dan khidmat.

Pada kenyataannya si Joko Saliwah adalah bocah yang cerdas dan giat, sehingga tak butuh waktu lama bagi dia untuk bisa lancar membaca alqur’an dan bahkan sudah khatam berulang kali, tetapi harapan untuk sembuh dari wajah belangnya tidak terlupakan.

Hingga pada suatu saat dimana kegalauan melanda, si Joko Saliwah terjebak dalam rasa yang menyeret dia pada sebuah pemikiran, bahwa ternyata semua yang dia jalani dan semua yang dia pelajari selama ini, ternyata bahkan tidak mampu membuat wajahnya normal seperti orang lain.

Hingga ketika khilaf menguasai emosinya, secara kalap si Joko Saliwah merobek-robek alqur’an yang sedang dipegangnya hingga menjadi perca-perca kecil yang bertebaran kemana-mana terhembus angin.

Di titik kesadaranya pulih kembali, siJoko Saliwah sangat menyesal dan segera secepatnya mengambil wudhu di sumur tersebut untuk bersujud memohon ampun kepada tuhan, ketika air sumur itu membasuh wajahnya, saat itulah mukjizat terjadi, wajah belangnya tidak ada lagi, dia kini berwajah sama dengan orang lain.

Si Joko Saliwah sangat bersyukur dan berulang kali bercermin kedalam bias air dari sumur tempat dia ambil wudhu’ seakan tidak percaya dengan keajaiban yang baru saja dia alami, namun kemudian dia sadar bahwa dia harus mengumpulkan kembali sobekan-sobekan alqur’an yang telah tersebar itu untuk kemudian dirawatnya, namun tak satupun dia temukan kembali, karena malah yang dia temukan adalah sebentuk binatang-binatang kecil dalam kolam kecil sekitarnya, binatang yang sebelumnya tidak ada di kolam tersebut, binatang itulah yang kemudian dia sebut sebagai quro (dari kata qur’an).

Sejak saat itulah kura-kura tersebut menjadi binatang yang dihormati karena mereka meyakini bahwa kura-kura tersebut berasal dari sobekan-sobekan kertas kitab suci.

Begitu pula dengan sumur yang kemudian disebut sebagai pamuruyan (tempat bercermin), mereka meyakini bahwa air sumur tersebut telah diberk ati oleh tuhan sehingga bisa melunturkan belang dari wajah si Joko Saliwah.

Kemudian batu tempat si Joko Saliwah mengaji dan sholat itupun terjaga hingga kini untuk tidak boleh dirusak, bahkan di injak sekalipun karena mereka yakin bahwa batu itu masih bagian dari alqur’an sehingga disakralkan.

Namun kelanjutan kisah tentang si Joko Saliwah kemudian tidak jelas,sangat mungkin jika dilihat dari rekam jejaknya si Joko Saliwah menjadi tokoh agama di tempat ia tinggal.


Sebenarnya masih ada sumur lain dilokasi itu yang juga dikeramatkan, dan keduanya berada tepat dibawah dua pohon besar, yang secara nyata adalah sebuah celah dari akar pohon tersebut, namun bagaimana posisi kedua sumur tersebut dalam kisah si Joko Saliwah masih merupakan misteri.

Apapun yang menjadi keyakinan dari siapapun tentu ada karifan dan filosofi kebaikan yang menjunjung nilai luhur sebuah interkasi, baik terhadap sesama manusia, kepada kekuatan diluar diri, ataupun kepada mahluk lain, karena yang jadi penting adalah upaya menyeimbangkannya... dan biasa kita sebut sebagai Memayu Hayuning Bawono..

Salam

Cireboner

 

Facebook
PRchecker.info